• Pelanggaran Lawan Arah Masih Jadi Ancaman Keselamatan Berlalu Lintas
  • Digitalisasi Layanan Jasa Raharja Perkuat Perlindungan Korban Kecelakaan dan Keselamatan Transportasi
  • Saksikan Penandatanganan PKB Jasa Raharja dan Serikat Pekerja, Menaker Titip Tiga Agenda Strategis
  • Hetifah Dorong Transformasi Kesehatan Digital, STIKSAM Gelar Workshop Inovasi Digital untuk SDM Kesehatan Masa Depan
  • Jasa Raharja Gelar Donor Darah HUT Jakarta ke-499, Wujudkan Kepedulian dan Aksi Kemanusiaan
Ketua Panitia SeminarBudaya , Dr. Ibrahim, Sabtu (14/2/2026) di Hotel Mesra Internasional

SAMARINDA – Dewan Pimpinan Pusat Persekutuan Asli Kalimantan (DPP PUSAKA) menggelar Seminar Budaya bertema “Warisan Budaya Kalimantan Timur: Pelestarian, Tantangan, dan Regenerasi” pada Sabtu (14/2/2026) di Hotel Mesra Internasional, Samarinda. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-21 PUSAKA sekaligus forum akademik untuk membahas pelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Seminar menghadirkan tiga narasumber utama: Awang Irwan Setiawan (Budayawan Kaltim), Hamdani (Budayawan Kaltim), dan Ririn Sari Dewi (Kepala Dinas Pariwisata Kaltim). Peserta terdiri dari akademisi, peneliti budaya, seniman, komunitas seni, tokoh adat, mahasiswa, serta perwakilan pemerintah daerah.

600 BN KETUM PUSAKAKetua Umum DPP PUSAKA, Prof. Dr. Ir. H. Abdunnur, M.Si., IPU., Asean.Eng, menegaskan pentingnya memasukkan Kurikulum Budaya Lokal dalam pendidikan formal maupun informal. “Dengan budaya kita menjaga kebhinekaan, memperkuat kebangsaan, dan menjaga stabilitas politik. Budaya adalah perekat yang menyatukan perbedaan,” ujarnya.

Staf Ahli Gubernur Kaltim Bidang SDA, Perekonomian, dan Kesejahteraan Rakyat, Drh. Arief Murdiyanto, hadir mewakili Gubernur sekaligus membuka acara. Ia menyampaikan apresiasi atas konsistensi PUSAKA dalam memajukan budaya melalui forum ilmiah yang terbuka dan kolaboratif.

Ketua Panitia Seminar, Dr. Ibrahim, menyoroti keprihatinan atas hilangnya seni tradisional seperti Mamanda, Lamut, Madihin, dan Tingkilan yang dulu populer di Samarinda pada era 1970–1980-an. “Generasi sekarang lebih mengenal budaya Korea dibandingkan seni daerahnya sendiri. Ini sangat memprihatinkan,” ungkapnya. Ia juga menekankan perlunya menghidupkan kembali nilai kebersamaan yang terkikis oleh dominasi gawai.

Selain diskusi, seminar juga menampilkan tarian tradisional. Di akhir kegiatan, peserta merumuskan rekomendasi strategis untuk pelestarian budaya Kaltim, termasuk penguatan peran generasi muda dan pengembangan pariwisata berbasis budaya.

“Keberagaman etnis di Kalimantan Timur adalah aset bangsa. Jika dipola dengan baik, ia akan menjadi daya tarik pariwisata sekaligus memperkuat identitas daerah,” tegas Dr. Ibrahim.

2500 PESERTA SEMINAR BUDAYA
@2026-Jul

NEXT

KONTENT SLIDER